Disaat putra pertamaku terserang penyakit pityriasis rosea
Apa itu Pityriasis Rosea? Entahlah, saya juga kurang mengerti secara detail apa itu Pityriasis Rosea. Tapi menurut dokter spesialis kulit yang menangani putra saya ini, katanya Pityriasis Rosea adalah suatu penyakit kulit yang disebabkan oleh virus. Entah virus apa itu, saya juga ga tau. Dokternya juga ga bisa menjelaskan tentang virus itu. Saya juga udah searching di google, dan semua artikel yang saya baca juga menyatakan bahwa para peneliti juga belum tau pasti tentang virus tersebut. Katanya virusnya itu sejenis virus yang menyebabkan penyakit herpes. Namun tetap saja mereka belum bisa menyebutkan apa nama virus tersebut.
Kembali ke kasus anak saya ya. Awal ceritanya sich begini. Ketika itu putra saya baru pulang dari sekolah, putra saya ini berusia 8 tahun, dan masih duduk dibangku kelas 3 SD. Dia mengeluhkan gatal dibagian atas kemaluannya kesaya, trus saya liat, ternyata ada semacam bintik-bintik kecil berwarna merah muda yang berkumpul menjadi satu membentuk seperti cincin yang kalau saya melihatnya sich lebih mirip seperti kurap. Awal melihatnya, saya pikir... Wah... Ini hanya kurap biasa. Langsung kepikiran bahwa biasanya kalau kurap biasa sich diobati pake olesan parutan kunyit dicampur kapur sirih juga sembuh kurapnya. Tanpa pikir panjang saya langsung membuat obat oles tersebut terus saya aplikasikan ke putra saya sekitar 3 kali pengolesan, namun bintik tersebut tidak juga sembuh malah warnanya jadi kehitaman dan kayak kebakar. Lalu saya hentikan pemakaiannya. Selang beberapa waktu saya amati lagi ternyata bintik tadi sudah mulai menyebar ke sebelah kiri dari lokasi pertama bintik awal ( kalau dalam penyakit pityriasis rosea disebut herald patch ). Melihat bintik merah tadi mulai menyebar, saya mulai khawatir dan saya mendiskusikan hal tersebut kesuami saya, dan kami memutuskan untuk membawa putra saya berobat ke klinik terdekat.
Sesampainya kami di klinik terdekat, putra sayapun diperiksa oleh dokter umum yang bertugas disana. Dokter mengatakan kalau bintik tersebut disebabkan oleh jamur. Kemudian dokter memberikan obat minum anti biotik dan salep anti jamur. Namun setelah obatnya dikonsumsi tetap saja kondisi putra saya belum keliatan membaik, begitupun salepnya juga tidak menunjukkan reaksi yg baik malah bintiknya semakin keliatan lembab dan menyebar ke area lainnya.
Kemudian kami memutuskan untuk membawa putra saya ke rumah bidan yang biasanya menjadi layaknya dokter di tempat tinggal kami ini. Bidan tersebut mengatakan kalau putra saya terkena alergi dan baru akan sembuh sekitar tiga bulan lagi. Dia juga memberikan syrup n salep untuk putra saya. Namun setelah dikonsumsi dan digunakan tetap saja putra saya belum juga membaik.
Dua minggu telah berlalu, namun putra saya belum juga sembuh. Boro-boro sembuh, membaik aja masih belum. Kemudian kami membawa putra saya ke klinik sebelumnya. Karena putra saya belum juga membaik, maka dokter memutuskan untuk merujuk putra saya ke sebuah Rumah Sakit yang ada di kota terdekat.
Maka kamipun berangkat kesana. Kali ini bintik yang ada ditubuh anak saya sudah mulai menyebar ke sisi kiri badannya dan mengarah kepunggung kirinya mulai bermunculan bintik-bintik baru seperti biang keringat.
Kembali ke kasus anak saya ya. Awal ceritanya sich begini. Ketika itu putra saya baru pulang dari sekolah, putra saya ini berusia 8 tahun, dan masih duduk dibangku kelas 3 SD. Dia mengeluhkan gatal dibagian atas kemaluannya kesaya, trus saya liat, ternyata ada semacam bintik-bintik kecil berwarna merah muda yang berkumpul menjadi satu membentuk seperti cincin yang kalau saya melihatnya sich lebih mirip seperti kurap. Awal melihatnya, saya pikir... Wah... Ini hanya kurap biasa. Langsung kepikiran bahwa biasanya kalau kurap biasa sich diobati pake olesan parutan kunyit dicampur kapur sirih juga sembuh kurapnya. Tanpa pikir panjang saya langsung membuat obat oles tersebut terus saya aplikasikan ke putra saya sekitar 3 kali pengolesan, namun bintik tersebut tidak juga sembuh malah warnanya jadi kehitaman dan kayak kebakar. Lalu saya hentikan pemakaiannya. Selang beberapa waktu saya amati lagi ternyata bintik tadi sudah mulai menyebar ke sebelah kiri dari lokasi pertama bintik awal ( kalau dalam penyakit pityriasis rosea disebut herald patch ). Melihat bintik merah tadi mulai menyebar, saya mulai khawatir dan saya mendiskusikan hal tersebut kesuami saya, dan kami memutuskan untuk membawa putra saya berobat ke klinik terdekat.
Sesampainya kami di klinik terdekat, putra sayapun diperiksa oleh dokter umum yang bertugas disana. Dokter mengatakan kalau bintik tersebut disebabkan oleh jamur. Kemudian dokter memberikan obat minum anti biotik dan salep anti jamur. Namun setelah obatnya dikonsumsi tetap saja kondisi putra saya belum keliatan membaik, begitupun salepnya juga tidak menunjukkan reaksi yg baik malah bintiknya semakin keliatan lembab dan menyebar ke area lainnya.
Kemudian kami memutuskan untuk membawa putra saya ke rumah bidan yang biasanya menjadi layaknya dokter di tempat tinggal kami ini. Bidan tersebut mengatakan kalau putra saya terkena alergi dan baru akan sembuh sekitar tiga bulan lagi. Dia juga memberikan syrup n salep untuk putra saya. Namun setelah dikonsumsi dan digunakan tetap saja putra saya belum juga membaik.
Dua minggu telah berlalu, namun putra saya belum juga sembuh. Boro-boro sembuh, membaik aja masih belum. Kemudian kami membawa putra saya ke klinik sebelumnya. Karena putra saya belum juga membaik, maka dokter memutuskan untuk merujuk putra saya ke sebuah Rumah Sakit yang ada di kota terdekat.
Maka kamipun berangkat kesana. Kali ini bintik yang ada ditubuh anak saya sudah mulai menyebar ke sisi kiri badannya dan mengarah kepunggung kirinya mulai bermunculan bintik-bintik baru seperti biang keringat.
Kamipun tiba di Rumah Sakit yang dimaksud. Setelah mendaftar, kami duduk mengantri menunggu panggilan. Satu persatu pasien keluar dari ruang dokter spesialis kulit tersebut. Cukup lama menunggu, akhirnya putra saya dipanggil juga. Dokter langsung memeriksa putra saya. Dimulai dari menimbang berat badan putra saya, dimana berat badannya waktu itu hanya 23 kg. Kemudian dokter meminta putra saya untuk melepaskan pakaian agar terlihat langsung bintik-bintik merah yang di alami putra saya. Putra saya melepaskan pakaiannya dibantu oleh suami saya. Saya dan suami saya bersama dokter saling mengajukan banyak pertanyaan seputar sakit yang di alami putra saya. Putra saya juga ikut menjawab beberapa pertanyaan dari dokter. Setelah mendengar keluhan-keluhan yang di alami putra saya serta melihat langsung kondisinya, maka akhirnya dokter memvonis bahwa anak saya terkena salah satu jenis penyakit kulit yang disebabkan oleh virus, yang mana penyakit tersebut disebut dengan Pityriasis Rosea.
Memang penyakit tersebut cukup asing bagi pendengaran saya, dan sebelumnya memang belum pernah terdengarkan oleh saya. Seperti di awal sudah saya ceritakan bahwa dokter menjelaskan bahwa penyakit ini disebabkan oleh virus yang sampai sekarang belum ada para peneliti yang mengetahui nama virus tersebut. Dokter juga mengatakan bahwa penyakit ini akan sembuh dalam jangka waktu 3 bulan. Waduh.... 3 bulan...?????
Gila bener... Kebayang dech, gimana jadinya tubuh putra saya kalau penyakit ini berlangsung selama 3 bulan. Kemudian dokter memberikan obat minum berbentuk puyer yang kalau ga salah merknya griseopulvin, ditambah anti biotik yang merknya cerini syrup, padahal setahu saya sich biasanya kalau anti biotik itu di berikan untuk pasien yang menderita penyakit yang disebabkan oleh bakteri tapi ini kan disebabkan oleh virus, lha.... Kenapa dikasih anti biotik ya?
Ya... Namanya juga kan dokter pasti lebih tau banget dari saya yang tidak punya pendidikan khusus dibidang kesehatan. Selain itu, dokter juga memberikan salep dengan merk topicare+ ceramide yang semacem krim untuk melembabkan dan menyejukkan kulit. Dan tidak lupa sebelum pulang dokter berpesan agar putra saya control satu bulan lagi.
Sepulangnya dari Rumah Sakit, saya masih penasaran dengan penyakit Pityriasis Rosea ini, jadi saya searching di google dan saya menemukan banyak artikel yang menjelaskan bahwa keluhan-keluhan yang di alami putra saya benar dirasakan oleh para penderita penyakit tersebut. Gambar-gambarnyapun sama persis seperti yang di alami putra saya. Sayapun banyak mendapatkan pencerahan tentang penyakit tersebut. Yang mana disitu dikatakan bahwa dalam banyak kasus penyakit ini biasa nya bisa sembuh sendiri walaupun tanpa di obati. Dan memang penyakit ini biasanya berlangsung selama 3 bulan dan bahkan lebih.
Back to my son ya, Setelah obat-obatan dari dokter tadi di berikan ke putra saya selama beberapa hari, kondisi putra saya juga belum membaik, malahan bintik-bintik seperti biang keringat itu mulai membesar menjadi seperti cincin yang berwarna merah muda. Dan cincin-cincin itu mulai menyebar dihampir seluruh tubuh anak saya kecuali di wajah.
Melihat kondisi putra saya yang semakin memburuk, akhirnya saya menghentikan penggunaan obat dari dokter tersebut. Oh iya, Sebelum ke Rumah Sakit kemaren suami saya sempat sharing ke kakaknya yang tinggal di kampung suami saya tentang penyakit putra saya dan kakaknya menyarankan untuk memberikan pengobatan secara herbal. Suami sayapun menyetujuinya. Karena jarak antara tempat tinggal kami dan kampung suami saya yang sangat jauh (beda propinsi), jadinya putra saya ga bisa langsung berkonsultasi ke orang yang mengobati tersebut, kami hanya mengirimkan foto kondisi penyakit putra saya lewat handphone, dan kakak suami saya yang memperlihatkan foto putra saya ke orang tersebut. Setelah melihat foto itu, orang tersebut memberikan obat berbentuk butiran hitam kurang lebih sebesar biji pepaya yang harus dimakan 3 kali sehari. Dan sejak saya menghentikan penggunaan obat dari Rumah Sakit, putra saya hanya mengkonsumsi obat dari orang yang tadi saya ceritakan dan untuk pengobatan luarnya saya kasih bedak tabur salicyl.
Kini sudah hampir 7 mingguan putra saya terserang Pityriasis Rosea, dan sekarang keadaannya sedikit demi sedikit sudah mulai membaik. Bintik-bintik yang meresahkan itu perlahan-lahan mulai memudar, hanya dibagian selangkangan yang bintik-bintik nya masih keliatan segar, begitu juga dibagian kulit kepalanya yang masih terdapat kerak-kerak putih seperti ketombe yang melekat tebal dan menimbulkan bau amis. Kadang ga jarang putra saya mengadukan kepada saya bahwa teman disekolahnya mengejeknya karena kondisi putra saya yang seperti itu. Miris memang, sedih... Ketika saya mendengarkan pengaduannya itu. Namun putra saya tetap semangat untuk sekolah, walaupun teman-temannya banyak yang menjauhinya. Entah karena mereka merasa jijik atau mungkin mereka takut ketularan penyakit putra saya ini. Saya bisa memaklumi hal tersebut. Namun perlu mereka ketahui bahwa penyakit ini tidak menular.
Sampai disini dulu ya cerita saya kali ini. Sebelumnya maaf karena saya tidak memperlihatkan foto kondisi putra saya saat ini karena saya belum sempat memfotonya. Namun cerita ini belum berakhir sampai disini ya, karena saya masih mau berbagi cerita tentang Pityriasis Rosea yang di alami putra saya ini. Lagian kan putra saya masih dalam proses penyembuhan. Itu artinya penyakitnya belum sembuh dan pastinya artikel ini akan berlanjut lagi.
Sekian dulu dari saya ya....
Nantikan kelanjutan cerita ini ya...
Mohon doanya juga agar putra saya lekas sembuh. Dan terima kasih banyak karena sudah meluangkan waktu untuk membaca artikel ini...
Semoga bermanfaat....!!!!!!


Hallo mbak,,
BalasHapusputri saya pun sudah 2 bulan ini menderita penyakit ini,,
kmrn sempet mau sembuh,, tp mgkn krn belom sembuh bener kemudia masuk sekolah,, eh muncul lagi bruntusannya..
Skrg yg pasti putrax sudah sembuh kan?
bagaimana bisa sembuhnya mbak?
Hallo juga mbak..
HapusSebelumnya terima kasih karena sudah mengunjungi blog saya. Memang penyakitnya memang bisa sembuh dengan sendirinya mbak, namun untuk mempercepat penyembuhan, saya kasih bedak tabur salicyl.
Hai, Mbak. Saya bbrpa minggu ini terdapat ruam yg bentuknya mirip seperti putra mbak, tapi kalau saya warnanya cokelat seperti luka bakar, teksturnya kasar spt bersisik, bukan merah" spt putra mbak. Apa bisa jadi gejala yg sama, ya?
BalasHapusHai jg mbak or mas...
HapusSblumnya trma ksih krn sudh mngunjungi blog sy.
Sepengetahuan saya, pityriasis rosea adalah ruam yg tdk trlalu gatal brbentuk lingkaran atau oval yg berukuran skitar 2,5 - 5 cm. Pd umumnya muncul di area dada, perut atau punggung. Biasanya berwarna merah atau kemerahan dan bersisik di sekitarnya.
Sbaiknya jika anda memiliki tanda atau gejala sprti itu yg brlgsung lama n tdk kunjung hilang,sy rasa ada baiknya anda konsultasikan dgn dokter. Karena stiap tubuh mmiliki reaksi yg brbeda antara satu dgn yg lain.
Selalu diskusikan dgn dokter utk mndapatkan solusi trbaik dlm situasi anda😊
Oke, mba. Terima kasih😀
HapusMf mbk, skg sya mngalama skit sprti putra kmu mbk.
BalasHapusKlu bleh tau itu obat herbal nya beli dimna ya, dan harga nya brpa mb.
Sya udh sebadan mb,,
Sma ky yg saya alami sekarang mbk,, tiap berkeringat masya allah gatel nya,,, punya saya jalan 1 bln 😩
BalasHapusHalo mba, sptnya ank sy jg ngalamin spt ini deh mba sdh mau seminggu, awalnya jg kena disekitar selangkangan dia tp bintik² nya kecil spt digigit semut sy kirain mgkn jg semut yg gigit Krn gatal jdnya dia garukin. Awalnya ga byk tp sampe keluar lg bentol² gtu sekitar dada say kirain campak tp rasanya ga mgkn jg Krn udh ngalamin campak jg dan sdh byk keluar jg waktu itu. Akhirnya searching deh, bbrp kali selalu lbh ke arah ini sih virusnya sampe sy baca² gejalanya ga jauh beda dg ank mba. Trs kelanjutannya gmn mba? Sy blm ke dokter sih krn dia ga demam dan msh aktif aja mainnya
BalasHapusHaloo mba. Bagaimna kabar putra nya mba. Apakah sekarang sdh sembuh. Sy jg mengalami hal yg sama. Mulai dri kelas 1 SMA tahun 2008/2009 sya prnah kena penyakit kulit yg hampir sama seperti yg ddrita sm putra mba nya. Bahkan sampai saya anak 3 sekarang penyakit kulit ini masih ada. Krna tnpa diobati bisa smbuh dngn sndri. Cuma terkadang rasanya risih. Syukurnya tidak menular dengan anak"& suami sy.
BalasHapus