Pengalaman saya ketika hampir 2 tahun mengidap penyakit TBC paru

    Sedetikpun saya tidak pernah membayangkan bahwa saya akan mengidap penyakit TBC paru. Bagaimana tidak? Penderita TBC biasanya dikenal masyarakat sebagai orang-orang yang bergaya hidup kurang bersih, bergumul dengan lingkungan kumuh dan berdebu dan mayoritasnya perokok. Sementara saya seorang yang suka menjaga kebersihan, tinggal dikediaman yg layak dan saya juga bukan perokok. Namun apakan daya jika Allah berkehendak semuanya pasti terjadi. Dan benar saya akhirnya divonis sebagai pengidap TBC.
 
     Semuanya berawal ketika saya mengalami batuk yang tak kunjung sembuh walaupun sudah berobat kemana-kemana. Kurangnya alat-alat medis untuk mengecek lengkap jenis penyakit saya membuat saya harus berpindah dari 1 rumah sakit kerumah sakit yang lain. Susahnya mengeluarkan dahak karena batuk kering yang saya alami membuat dokter sulit untuk memvonis penyakit saya, belum lagi hasil rontgennya yang kabur dan ga jelas. Akhirnya saya memutuskan berobat ke shin-she. Namun bukannya kesembuhan yang saya dapatkan malah saya menjadi gemuk. Pipi yang chubbynya ga ketulungan dan perut yang buncit seperti orang hamil. Namun saya tidak menyerah. Saya kembali berobat ke klinik. Kali ini dokter menyarankan agar saya memeriksakan diri ke salah satu rumah sakit yang ada dikota. Saya n suamipun menyetujuinya. Akhirnya berangkatlah kami menuju ke RS tersebut.

     Sesampainya disana saya dilayani dengan baik oleh perawat disana, saya juga ditemani oleh suami saya yang selalu setia mendampingi saya selama saya sakit. Ada ibu dan juga putra pertama saya yang waktu itu berusia 4 tahun yang juga ikut menemani saya. Saya kemudian diperiksa dokter dengan cara dirontgen, di cek dahaknya, trus darahnya juga dicek. Ga berapa lama menunggu akhirnya keluarlah hasilnya dan dokter memvonis bahwa saya menderita TBC dikedua belah paru saya. Seakan disambar petir saya mendengar vonis itu. Karena setahu saya TBC adalah penyakit yang menular dan mematikan. Namun dokter memberikan saya semangat bahwa sakit ini bisa disembuhkan. Dan saya hanya perlu kesabaran. Saya dirawat inap 4 hari disana. Kemudian saya disuruh pulang. Melanjutkan pengobatan dklinik ditempat saya tinggal. Saya disarankan dokter untuk terapi obat selama 6 bulan. Dimana obat tersebut harus dimakan rutin setiap hari selama 6 bulan dan tidak boleh absen satu haripun. Dan kalau sampai absen saya harus mengulang memakannya dari awal lagi. Karena saya bertekad kuat ingin sembuh maka saya patuh pada pesan dokter. Namun kesedihan saya tidak hanya sampai disitu. Ketika diperiksa dengan cara dimantoux ternyata putra saya juga tertular penyakit tersebut. Dia juga mendapatkan terapi obat selama 6 bulan sama seperti saya. Kebayang kan gimana repotnya memberikan obat setiap hari selama 6 bulan kepada anak yg berusia 4 tahun. Namun saya dan putra saya berhasil melewatinya.

     Dan setelah 6 bulan berlalu saya dinyatakan sembuh dan disusul putra saya 1 bulan kemudian.

     Demikianlah pengalaman saya ketika menjadi penderita TBC. Buat anda yang sekarang sedang menjadi penderita TBC jangan putus harapan dan tetap semangat. Penyakit TBC tidak setakut yang kita bayangkan. Sudah ada obat yang bisa menyembuhkannya. Anda hanya perlu kesabaran dan keyakinan untuk bisa sembuh.
Semangaaaaattttt!!!!!!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Disaat putra pertamaku terserang penyakit pityriasis rosea